Rawinala Adalah Lembaga Pertama Di Indonesia Yang Menyelenggarakan Pendidikan Bagi Disabilitas Netra Majemuk
Netra majemuk adalah mereka yang memiliki hambatan penglihatan (total atau low vision) diikuti dengan hambatan yang lain seperti keterlambatan perkembangan intelektual, pendengaran, hambatan fisik atau autis. Kita bersyukur bahwa di Indonesia ada Yayasan Pendidikan Rawinala yang didirikan pada tahun 1973 karena kepedulian beberapa aktifis warga Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Rawamangun. Pada tahun 1981 Rawinala pindah ke lokasi Jl. Inerbang No. 38, Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.
Tanganpeduli berkesempatan mengunjungi Rawinala pada bulan Februari 2024 dengan ditemani oleh Ibu Martini mengunjungi ruangan kelas satu persatu. Setiap kelasnya hanya berisi 4 - 5 siswa dan didampingi oleh seorang pengajar. Ada 12 kelas seluruhnya, yang setiap kelasnya berbeda tingkatan, mulai dari kelas pendidikan dasar hingga pendidikan lanjutan. Jumlah murid ada 59 anak ketika kami kunjungi.
Anak-anak diajarkan membaca tulisan braille, kerajinan tangan, bermain alat musik dan bernyanyi, memasak dan sebagainya, juga diajarkan kemandirian pribadi (seperti mandi, makan, masak, mencuci) sedangkan pada pendidikan lanjutan, anak dilatih untuk mengembangkan keterampilan bekerja sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
Yayasan juga memiliki rumah perawatan, yaitu untuk menampung netra majemuk yang sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Ada 12 orang yang tinggal di Rumah Perawatan, mereka merupakan siswa pertama Rawinala dan sekarang sudah berusia di atas 40 tahun dan yang tertua berusia 60 tahun.
Anak-anak yang selesai sekolah dikumpulkan di ruangan besar, dan mereka menyambut kedatangan Tanganpeduli dengan menyajikan lantunan lagu oleh Dio , Meylia dan Louis Bertrand yang menjadi Juara Pertama Festival Lomba Seni Siswa Nasional sebagai penyanyi solo jenjang SMPLB/SMALB. Juga ada sambutan perkenalan dari Tanganpeduli dan Pak Dwihardjo Sutarto selaku Pimpinan Yayasan Rawinala. Acara ditutup dengan bernyanyi dan menari oleh Maria Agatha dan Huiling dari Tanganpeduli, bersama anak-anak Rawinala.
Sesudah acara, kami juga beramah tamah dengan Pak Dwi yang banyak bercerita mengenai betapa kasih Tuhan melalui kebaikan orang-orang yang menyumbang kepada Rawinala, sehingga Yayasan tetap bisa bertahan hingga waktu ini. Rawinala bahkan juga menjadi tempat pelatihan bagi guru-guru dan pendidik khusus tunanetra yang tersebar di pelosok tanah air.
Tanganpeduli pada kesempatan berkunjung menyampaikan sumbangan dari para donatur senilai Rp 5.250.000,- ditambah dengan barang yakni 4 buah kipas angin dan 12 buah speaker yang dibutuhkan di ruang kelas juga 100 box nasi kuning. Pada bulan sebelumnya Tanganpeduli telah menyampaikan sumbangan dari donatur sebesar Rp 7.500.000,-.
Pimpinan Yayasan Dwituna Rawinala menyampaikan banyak terima kasih kepada para donatur yang baik hati. Pimpinan Yayasan Rawinala juga berharap agar ada donatur yang terketuk hatinya untuk membantu sebagai Orangtua Asuh bagi anak-anak Rawinala yang kurang mampu.