verifiedTransparansi Dana:
Panti SosialRp 2.356.617.432
Sumur BorRp 502.955.058
Orangtua AsuhRp 355.332.500
BeasiswaRp 84.000.000
TotalRp 3.298.904,990
Cerita

RELAWAN BERCERITA

calendar_todayplaceSolo, Jawa Tengah

Bagi Sri Budjono, 50 tahun, menjadi relawan Tanganpeduli.com bukan sekadar mengisi waktu luang. Ada pengalaman hidup yang membuatnya memahami bagaimana rasanya memiliki keinginan untuk sekolah dan meraih cita-cita, tetapi harus berjuang dengan kondisi ekonomi yang terbatas.

Semasa muda, Pak Sri pernah bekerja sebagai welder di sebuah perusahaan di Cikarang yang dipimpin oleh Djohan Gautama. Setelah kembali ke Solo, ia mencoba berbagai pekerjaan. Ia pernah membuka warung kelontong, kemudian bekerja sebagai sales sembako.

Ketika pandemi COVID-19 melanda, perusahaan tempatnya bekerja harus ditutup. Sejak saat itu, Pak Sri menjalani kehidupan dengan berbagai pekerjaan freelance dan menjadi pengemudi ojek online, pekerjaan yang sudah dijalaninya selama sekitar enam tahun.

Di tengah kesibukannya mencari nafkah, Pak Sri mengetahui bahwa Tanganpeduli.com sedang mengembangkan Program Anak Asuh dan membutuhkan relawan di berbagai daerah. Tanpa ragu, ia mengajukan diri.

“Saya tertarik menjadi relawan karena dulu saya juga sekolah dengan biaya pas-pasan. Sekarang saya ingin membantu anak-anak yang punya niat sekolah tinggi untuk mengejar cita-cita, walaupun dengan kondisi seadanya.”

Bagi Pak Sri, menjadi relawan bukan berarti harus meninggalkan pekerjaannya. Ia justru memanfaatkan waktu di sela-sela pekerjaannya sebagai ojol untuk mencari anak-anak yang membutuhkan bantuan.

Kadang ia bertemu mereka ketika sedang melihat anak-anak berjalan kaki pulang sekolah di sekitar tempat tinggalnya. Dari situ ia mulai mencari tahu: mereka sekolah di mana?

Setelah mendapatkan informasi awal, Pak Sri menghubungi pihak sekolah untuk mengetahui kondisi anak dan keluarganya. Ia kemudian mencari alamat rumah mereka, bertemu dengan orang tua, menjelaskan maksud kedatangannya, dan meminta izin sebelum mengusulkan anak tersebut kepada Admin Program Anak Asuh Tanganpeduli.com.

Proses itu ia lakukan satu per satu. Tidak berhenti pada mencari nama dan alamat, tetapi berusaha mengenal kondisi keluarga dan memastikan bahwa bantuan memang dibutuhkan.

Pak Sri bersyukur karena selama ini anak-anak yang ia usulkan dapat diterima dalam Program Anak Asuh. Baginya, momen paling membahagiakan adalah ketika ia dapat kembali mendatangi keluarga dan menyampaikan kabar bahwa anak mereka mendapatkan bantuan.

“Biasanya orang tua mereka terharu, karena tidak menyangka akan mendapat bantuan dari pihak yang selama ini tidak mereka kenal.”

Sebagian keluarga yang ditemuinya hidup sangat sederhana. Ada ayah yang bekerja sebagai kuli bangunan, tukang kebun dan pekerjaan serabutan lainnya. Para ibu ada yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, mencuci pakaian, atau berjualan kecil-kecilan untuk membantu ekonomi keluarga.

Bagi orang lain, bantuan uang sekolah mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi mereka, bantuan itu berarti beban yang sedikit lebih ringan dan kesempatan bagi anak mereka untuk tetap bersekolah.

Pak Sri tidak mendapatkan imbalan dari kegiatan relawannya. Yang ia dapatkan adalah kebahagiaan ketika melihat seorang anak yang semula kesulitan membayar sekolah akhirnya dapat terus belajar.

Dan doa dari para orang tua itulah yang membuatnya semakin bersemangat.

“Mereka hanya bisa mendoakan agar Program Anak Asuh ini dapat terus berjalan dan semakin banyak anak yang mendapat bantuan. Mereka juga mendoakan para relawan dan pengurus OTA yang bekerja dengan tulus untuk membantu anak-anak mereka.”

Bagi Pak Sri, mungkin ia tidak mampu membantu semua anak. Tetapi ia percaya, satu anak yang berhasil ia temukan dan bantu adalah satu anak yang mendapat kesempatan lebih besar untuk mengejar cita-citanya.

Dari seorang ojol yang bekerja dari satu tempat ke tempat lain, Pak Sri kini juga menjadi mata dan telinga Tanganpeduli.com di Solo—mencari anak-anak yang membutuhkan, mengetuk pintu rumah mereka, dan membawa kabar baik bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap masa depan mereka.

Karena terkadang, sebuah cita-cita hanya membutuhkan satu hal sederhana:

Seseorang yang mau membuka jalan.

Tanganpeduli.com

Mari Peduli, Kita Berbagi

Chat via WhatsApp