RELAWAN BERCERITA
Bagi Sri Budjono, 50 tahun, menjadi relawan Tanganpeduli.com bukan sekadar mengisi waktu luang.
Ada pengalaman hidup yang membuatnya memahami bagaimana rasanya memiliki keinginan untuk
sekolah dan meraih cita-cita, tetapi harus berjuang dengan kondisi ekonomi yang terbatas.
Semasa muda, Pak Sri pernah bekerja sebagai welder di sebuah perusahaan di Cikarang yang
dipimpin oleh Djohan Gautama. Setelah kembali ke Solo, ia mencoba berbagai pekerjaan. Ia pernah
membuka warung kelontong, kemudian bekerja sebagai sales sembako.
Ketika pandemi COVID-19 melanda, perusahaan tempatnya bekerja harus ditutup. Sejak saat itu, Pak
Sri menjalani kehidupan dengan berbagai pekerjaan freelance dan menjadi pengemudi ojek online,
pekerjaan yang sudah dijalaninya selama sekitar enam tahun.
Di tengah kesibukannya mencari nafkah, Pak Sri mengetahui bahwa Tanganpeduli.com sedang
mengembangkan Program Anak Asuh dan membutuhkan relawan di berbagai daerah. Tanpa ragu, ia
mengajukan diri.
“Saya tertarik menjadi relawan karena dulu saya juga sekolah dengan biaya pas-pasan.
Sekarang saya ingin membantu anak-anak yang punya niat sekolah tinggi untuk mengejar
cita-cita, walaupun dengan kondisi seadanya.”
Bagi Pak Sri, menjadi relawan bukan berarti harus meninggalkan pekerjaannya. Ia justru
memanfaatkan waktu di sela-sela pekerjaannya sebagai ojol untuk mencari anak-anak yang
membutuhkan bantuan.
Kadang ia bertemu mereka ketika sedang melihat anak-anak berjalan kaki pulang sekolah di sekitar
tempat tinggalnya. Dari situ ia mulai mencari tahu: mereka sekolah di mana?
Setelah mendapatkan informasi awal, Pak Sri menghubungi pihak sekolah untuk mengetahui kondisi
anak dan keluarganya. Ia kemudian mencari alamat rumah mereka, bertemu dengan orang tua,
menjelaskan maksud kedatangannya, dan meminta izin sebelum mengusulkan anak tersebut kepada
Admin Program Anak Asuh Tanganpeduli.com.
Proses itu ia lakukan satu per satu. Tidak berhenti pada mencari nama dan alamat, tetapi berusaha
mengenal kondisi keluarga dan memastikan bahwa bantuan memang dibutuhkan.
Pak Sri bersyukur karena selama ini anak-anak yang ia usulkan dapat diterima dalam Program Anak
Asuh. Baginya, momen paling membahagiakan adalah ketika ia dapat kembali mendatangi keluarga
dan menyampaikan kabar bahwa anak mereka mendapatkan bantuan.
“Biasanya orang tua mereka terharu, karena tidak menyangka akan mendapat bantuan dari
pihak yang selama ini tidak mereka kenal.”
Sebagian keluarga yang ditemuinya hidup sangat sederhana. Ada ayah yang bekerja sebagai kuli
bangunan, tukang kebun dan pekerjaan serabutan lainnya. Para ibu ada yang bekerja sebagai asisten
rumah tangga, mencuci pakaian, atau berjualan kecil-kecilan untuk membantu ekonomi keluarga.
Bagi orang lain, bantuan uang sekolah mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi
mereka, bantuan itu berarti beban yang sedikit lebih ringan dan kesempatan bagi anak mereka
untuk tetap bersekolah.
Pak Sri tidak mendapatkan imbalan dari kegiatan relawannya. Yang ia dapatkan adalah kebahagiaan
ketika melihat seorang anak yang semula kesulitan membayar sekolah akhirnya dapat terus belajar.
Dan doa dari para orang tua itulah yang membuatnya semakin bersemangat.
“Mereka hanya bisa mendoakan agar Program Anak Asuh ini dapat terus berjalan dan
semakin banyak anak yang mendapat bantuan. Mereka juga mendoakan para relawan dan
pengurus OTA yang bekerja dengan tulus untuk membantu anak-anak mereka.”
Bagi Pak Sri, mungkin ia tidak mampu membantu semua anak. Tetapi ia percaya, satu anak yang
berhasil ia temukan dan bantu adalah satu anak yang mendapat kesempatan lebih besar untuk
mengejar cita-citanya.
Dari seorang ojol yang bekerja dari satu tempat ke tempat lain, Pak Sri kini juga menjadi mata dan
telinga Tanganpeduli.com di Solo—mencari anak-anak yang membutuhkan, mengetuk pintu rumah
mereka, dan membawa kabar baik bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap masa depan
mereka.
Karena terkadang, sebuah cita-cita hanya membutuhkan satu hal sederhana:
Seseorang yang mau membuka jalan.
Tanganpeduli.com
Mari Peduli, Kita Berbagi